Senin, 07 November 2011

Dua Gadis Remaja Pengamen jalanan.

Pengalaman ini sudah lama terjadi, tapi baru kali ini aku kefikiran menulisnya dan memasukan kedalam blog. lumayan....untuk memperbanyak isi blog-ku.

Pada suatu hari...
pokoknya hari minggu, tanggal dan tahunnya aku lupa, yang pasti waktunya sore, sepulang aku dari Jakarta, tepatnya dari terminal Rambutan.

Cerita ini terjadi didalam bis antar kota jurusan Jakarta-Merak.
Seperti biasa, sebagian dari perjalananku di dalam bis, aku habiskan dengan membaca.
Bis terus melaju kencang meski didalam tol kota, untungnya saat itu kondisi jalan begitu lancar.
Aku tetap konsentrasi dengan bacaanku, halaman demi halaman aku lewati, tanpa ada yang bisa mengalihkan perhatianku saat itu.
Saat asik-asiknya membaca, kemudian bis yang aku tumpangi berhenti. Kulihat kanan kiri dengan maksud mencari tahu sudah sampai manakah bis yang aku tumpangi sampai. Dan mataku tertuju kepada tulisan di papan petunjuk jalan, dan ternyata bis yang aku tumpangi sudah sampai Kebon Jeruk. Keramaian mulai terjadi, satu-dua pedagang asongan naik keluar masuk bis seraya menawarkan dagangan. sang kondektur berteriak mengajak kepada calon penumpang di luar sambil meneriakan nama jurusan dari bis tersebut.

Aku tetap dengan membacaku, meski mau tidak mau suara keramaian itu sedikit membuyarkan konsentrasi bacaku, akhirnya aku berhenti membaca, ku tebarkan pandanganku ke sekeliling, ternyata keramaian masih terjadi.
Saat bis akan jalan, saat itu juga masuklah dua gadis remaja dengan penampilan sederhana, yang satu bertopi dan yang satunya sambil membawa sebuah gitar. Dan saat itulah aku menyimpulkan jika dia mereka adalah seorang pengamen jalanan.

Jalanan...yaaahhh "jalanan", sebuah kata yang hampir semua orang menganggapnya memiliki makna kurang baik untuk sebuah profesi apapun itu. begitu juga dengan aku. Yang ada didalam benakku saat itu: Jalanan adalah Kotor, kumuh, kasar,dekil dan sejenisnya.

Kembali kepada dua gadis remaja tadi.
Mereka mencoba memulai untuk menawarkan suaranya, di awali dengan sambutan minta ijin dan ungkapan maaf jika kehadiran mereka akan mengganggu perjalanan para penumpang.

Satu lagu di bawakan...lupa apa judul lagunya, lagu dari sebuah band ibu kota. Tapi suaranya tidak jelek, lumayanlah jika di bandingkan dengan suara dan kemampuan aku nyanyi.
Satu lagu....dua lagu selesai...sampai akhirnya di lagu ke tiga aku memanggilnya, aku request lagu MATAHARIKU dari Agnes Monica, entah kenapa, pokonya aku lagi suka-sukanya dengan lagu itu. Mereka meng-iyakan permintaan ku unutk membawakan lagu tersebut.
Mulailah mereka membawakan lagu tersebut, meski hanya di iringi oleh sebuah gitar, buat aku lagu itu enak di dengarnya, lumayan merdu, entah karena cara membawanya atau emang karena aku lagi suka dengan lagu tersebut.

Selesailah penampilan mengamen mereka di akhiri dengan menadahkan topi dengan maksud meminta kerelaan dari para penumpang untuk memberikan sedikit rizkinya atas lagu-lagu yang mereka tampilkan, tiba dihadapanku aku berikan uang yang lebih atas permintaan laguku seraya mengucap terima kasih dan di jawab dengan kata terima kasih pula.

Setelah selesai tugasnya, mereka duduk didekat pintu bis sambil mengitung hasil jerih payah mereka untuk hari itu.
Bis tetap melaju dengan cepat, berpacu dengan senja yang akan segera berganti dengan gelap, karena sore menjelang malam sebentar lagi tiba.
Suara deru angin menggemuruh diluar kudengar, seiring ku tebarkan pandangan kesekeliling yang ada, tanpa sengaja aku mendengar obrolan dua gadis remaja itu.

Kawan....tahukah apa yang mereka bicarakan???
Mereka membicarakan jika sebentar lagi waktu shalat magrib akan segera tiba, mereka membuat siasat untuk menetukan dimana mereka minta di turunkan agar mereka bisa melaksanakan ibadah shalat magrib tersebut.

Ya Tuhan....aku sedikit kaget, ternyata orang yang mungkin kita anggap rendah selama ini, mereka masih tetap mengingatmu.
Aku malu sama diriku sendiri, karena saat itu aku santai-santai saja dalam perjalanan meski waktu shalat telah tiba.
Aku salut sama mereka....di tengah kesusahan hidup, ditengah kerasnya hidup dan kehidupan, di sela-sela kesibukan yang mereka miliki, mereka tetap bisa menjalankan ibadah kepada-Mu.
Aku malu terhadap diriku sendiri.
Aku malu terhadap Tuhanku.
Aku juga malu terhadap dua gadis remaja itu.

Kawan....
Dari dua gadis remaja itu aku banyak belajar hidup.
Aku belajar bersyukur dengan apa yang aku punya sekarang.
Aku belajar mencoba untuk tetap melakukan kewajibanku terhadap Tuhanku sedang dan dimanapun berada saat itu.
Aku belajar sebuah kerja keras.
Aku belajar untuk tidak menyama ratakan bahwa semua komunitas jalanan adalah "KOTOR".
Aku belajar untuk lebih menghargai mereka yang berada di bawah kita.
Tidak semua dari mereka adalah jahat, nakal, badung.
Biar kata fisik mereka kotor, dekil, bahkan mungkin bau...tapi hati mereka lebih bersih dan wangi.

Tuhan....terima kasih untuk hari itu.
Melalui dua gadis remaja itu, Kau berikan aku pelajaran hebat.

Tiba di sebuah persimpangan, dua gadis remaja itu turun, aku lihat mereka sampai sosoknya tak terlihat sambil berharap jika di lain waktu atau tempat kami bisa dipertemukan kembali.

Hari, minggu, bulan dan tahunpun berganti.........

Kawan....
Percaya atau tidak, saat aku mau membesuk nenek aku yang sedang di Rumah Sakit Umum serang, tiba-tiba di jalan lingkungan rumah sakit tersebut aku di kejutkan dengan panggilan agak kencang sambil berucap kata: Om...Om...
dan ternyata meraka memanggilku dengan sebutan "Om"
Aku kaget,,,,sedikit tak percaya....lebih setahun kami tak jumpa, dan jumpapun hanya sekali, tapi mereka masih mengenaliku.
Makasih ya Allah....kau kirimkan Dik Rina dan dik Dini kembali.



Masih di Anyer, waktunya lupa lagi....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar